Breaking News

WFH di DKI, Sewa Perkantoran Hancur-Hancuran!

,
WFH di DKI, Sewa Perkantoran Hancur-Hancuran!
Foto Ilustrasi/Net

JAKARTA -- Proyeksi penyewaan perkantoran akan semakin menurun pada tahun ini. Pemicunya kasus penularan Covid - 19 yang terus memecahkan rekor hingga memunculkan kebijakan Work From Home (WFH).

Perusahaan penyewa perkantoran sudah banyak yang melakukan efisiensi mulai dari mengurangi jumlah lahan yang disewa, karena masih akan terus menerapkan kebijakan WFH.

Head of Research Department Colliers Indonesia Ferry Salanto menjelaskan rata-rata pertumbuhan pasokan perkantoran di wilayah DKI Jakarta akan sedikit melambat karena ada beberapa pembangunan gedung perkantoran yang akan menunda atau memundurkan menyelesaikan konstruksinya.

Sementara tingkat hunian perkantoran juga sudah mulai menurun rata-rata sudah di bawah 80%. Perlambatan sudah terjadi sejak tahun 2019 lalu, namun puncaknya berada pada akhir tahun 2020 hingga awal 2021 terjadi penurunan yang signifikan.

"Akhir 2020 dibanding Q1 2021 terjadi penurunan signifikan dalam sejarah tingkat hunian perkantoran rata-rata di bawah 80%, performance ini terendah. Selain penyerapan yang tidak tinggi juga disebabkan pasokan baru yang agresif pada tahun sebelumnya," jelas Ferry dalam konferensi pers, Rabu, 7 Juli 2021.

Ferry memproyeksikan permintaan perkantoran di wilayah Central Business District (CBD) dan luar CBC Jakarta masih akan melandai karena pasokan yang tinggi. Saat ini rata-rata tingkat hunian di CBD berada pada tingkat 79,2% dan luar CBD 78%, angka ini akan menurun paling tidak sampai 2% hingga akhir tahun.

"Supply baru sebelumnya juga menekan rata-rata tingkat hunian turun 2-2,5% sampai penghujung tahun 2021," jelasnya.

Menurutnya kondisi ini semakin berat karena banyak perusahaan yang mulai efisiensi dengan mengurangi sewa lahan perkantoran karena bekerja dari rumah. Untuk jangka panjang strategi perkantoran juga kemungkinan akan mengurangi jumlah pekerja yang akan bekerja di kantor dengan skema sebagian WFH.

Ia menampik jika dibilang permintaan perkantoran sudah tidak ada. Menurut Ferry perkantoran juga masih ada yang mau melakukan ekspansi, walaupun kondisinya masih berat.

Selain itu Ferry juga bicara mengenai tarif sewa perkantoran saat ini rata-rata sudah turun 20% dari tahun 2016 sampai dengan Q2 tahun ini. Penurunan harga perkantoran belum termasuk dalam taraf negosiasi yang bisa dilakukan kepada penyewa tenant.

Penyewa Perkantoran Surabaya Makin Tipis

Selain Jakarta, kondisi ini juga terjadi pada kota terbesar nomor dua di Indonesia. Dari data yang dihimpun Colliers Indonesia tingkat penyewaan di Surabaya hanya 55%.

"Kalau kita lihat di Surabaya pada 2020 terjadi penurunan yang cukup lumayan, karena pandemi sampai pertengahan tahun di 60%, kemungkinan sampai akhir tahun hanya 55%. Ini kondisi yang tidak sehat," jelasnya.

Dijelaskan kalau penyerapan penyewaan perkantoran di Surabaya memang tidak tinggi, sementara pasokan juga terus bertambah.

"Kebanyakan owner gedung adalah yang mengisi gedung, kalau ada sisa mereka sewakan. Masalahnya kebutuhan tidak terlalu besar. Dengan suplai yang ada sekarang banyak gedung baru yang kesulitan," katanya.

Ferry melihat di Surabaya tingkat hunian masih akan rendah karena belum ada keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Sementara harga sewa di Surabaya sudah terpantau turun rata-rata 14%, harga jual juga mulai turun dari pertengahan tahun kemarin. []

Komentar

Loading...