Breaking News

Pajak Karbon Dukung Pertumbuhan Energi Terbarukan

,
Pajak Karbon Dukung Pertumbuhan Energi Terbarukan

TAPANULI SELATAN -- Ketua Yayasan Perspektif Baru, Hayat Mansur, mengatakan kebijakan pajak emisi karbon dapat meningkatkan pertumbuhan energi terbarukan. Menurut Hayat, kebijakan emisi karbon bisa menjadi daya tarik dalam pengembangan energi terbarukan. Rabu, 21 Juli 2021.

"Namun hal itu harus didukung juga dengan adanya reward atau kebijakan insentif untuk mendorong peralihan ke energi terbarukan," kata Hayat.

Ia menjelaskan, pemerintah berencana menerapkan pajak karbon mulai tahun depan sebagai salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi emisi karbon. Nantinya, produsen listrik berbasis energi fosil seperti Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) akan ikut terkena pajak karbon ini.

Hayat menilai, kebijakan pemerintah yang akan menghadirkan pajak emisi karbon memperbesar harapan energi terbarukan untuk berkembang lebih cepat dan kompetitif dengan energi fosil.

Tujuan utama pajak karbon adalah untuk meredam emisi secara nasional. Namun upaya tersebut perlu kebijakan pendukung lainnya. Salah satunya, pengenaan pajak karbon harus didukung kebijakan insentif untuk mendorong peralihan ke energi terbarukan yang ramah lingkungan.

"Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan dana dari pajak karbon untuk membiayai insentif tersebut. Jadi perusahaan tidak hanya menerima hukuman (punishment) jika menghasilkan emisi karbon, tetapi juga didorong dengan adanya insentif (reward) yang bisa didapat jika beralih ke teknologi ramah lingkungan," ucap Hayat.

Hayat menyarankan supaya pemerintah berkomunikasi dengan semua pihak sehubungan kesiapan dan konsekuensi yang bakal dihadapi terkait dengan kebijakan ini. Karena kebijakan tersebut tidak bisa mengandalkan otoritas pajak saja, melainkan juga harus melibatkan kolaborasi berbagai instansi dan publik agar tujuan pengurangan emisi karbon tercapai dengan beralih ke energi bersih.

Dari sisi ketersediaan energi bersih, menurut Hayat, Indonesia termasuk negara paling kaya sumber energi terbarukan dengan memiliki potensi energi terbarukan besar mencapai 442,4 GW. Salah satu yang terbesar adalah dari energi air mencapai 75 GW (75 ribu MW).

Kemudian pemanfaatan air sebagai energi listrik di Indonesia juga bisa mencapai kapasitas besar dan mampu mengurangi emisi karbon sangat signifikan. Misalnya, PLTA Batang Toru berkapasitas 510 MW di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara diatur untuk berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sekitar 1,6 juta ton per tahun atau setara dengan kemampuan 12 juta pohon menyerap karbon.

Pemanfaatan energi terbarukan seperti PLTA sangat penting untuk upaya mitigasi perubahan iklim yang kini makin menjadi kenyataan, seperti peningkatan curah hujan, banjir, dan kekeringan berkepanjangan. Pada akhirnya, perubahan iklim dapat mengakibatkan kemusnahan semua spesies dan kehidupan di muka bumi.

Berdasarkan Persetujuan Paris pada 2015, semua negara harus menurunkan emisi karbonnya termasuk di sektor energi untuk menjaga menjaga ambang batas suhu bumi di bawah dua derajat Celcius dan berupaya menekan hingga 1,5 derajat celcius di atas suhu bumi pada masa pra-industri.

Indonesia diketahui telah berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon sebanyak 29 persen dengan usaha sendiri pada 2030, dan bisa mencapai 41 persen jika ada dukungan internasional. Salah satu instrumen untuk mengendalikan emisi karbon adalah perlu adanya ketentuan mengenai pengenaan pajak karbon. Pajak karbon juga untuk sumber pendanaan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Pajak karbon pertama kali diterapkan di Finlandia pada 1990. Kemudian diikuti negara-negara Skandinavia lainnya, seperti Swedia dan Norwegia pada 1991. Selain itu, negara-negara lainnya juga ikut menerapkan kebijakan pajak karbon, yakni Jepang (2012), Inggris (2013), dan Tiongkok (2017). Di wilayah Asia Tenggara, Singapura menjadi negara pertama yang menerapkannya pada 2019.

Komentar

Loading...